Pertahankan Citra Tokoh Nasional PRIMA DMI Makassar Soroti Informasi Parsial

MAKASSAR – Ketua Perhimpunan Remaja Mesjid Dewan Masjid Indonesia ( PRIMA DMI ) Asrijal Syahruddin, menyampaikan keprihatinan mendalam atas beredarnya potongan pidato tokoh nasional, Jusuf Kalla, di ruang digital yang dinilai tidak utuh. Menurut Asrijal, penyebaran informasi secara terpotong, terutama yang memuat istilah “mati syahid”, dilakukan tanpa disertai konteks yang lengkap. Hal ini dinilai berpotensi besar menimbulkan salah tafsir dan memicu pembentukan opini publik yang tidak proporsional terhadap maksud asli pernyataan tersebut. “Ketika potongan pernyataan dilepaskan dari konteksnya, maka publik tidak memperoleh gambaran utuh, sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru,” ujar Asrijal dalam keterangannya, Selasa. Ia menegaskan bahwa penyampaian informasi secara parsial berisiko mengaburkan makna sebenarnya dari apa yang disampaikan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami pesan secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan. Asrijal juga menyinggung pentingnya melihat rekam jejak tokoh secara komprehensif. Ia menilai, selama ini Jusuf Kalla dikenal sebagai figur nasional yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai upaya penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian di Indonesia. “Kita harus melihat track record beliau secara utuh. JK dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dan berperan aktif dalam menjaga kerukunan serta perdamaian bangsa,” tambahnya. Lebih lanjut, Asrijal mengingatkan bahwa setiap aktivitas di ruang digital tetap berada dalam kerangka hukum yang berlaku. Penyebaran informasi yang tidak utuh atau berpotensi menyesatkan perlu disikapi dengan kehati-hatian, mengingat adanya regulasi seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta ketentuan dalam KUHP. Dalam kesempatan tersebut, Asrijal mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam menerima serta membagikan informasi. Ia menekankan pentingnya verifikasi fakta dan pemahaman konteks secara menyeluruh. “Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu lengkap dan benar. Memastikan kebenaran dan konteks adalah langkah penting untuk menjaga kualitas ruang publik dan menjaga nama baik tokoh bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan komentar